Sabtu, 02 Oktober 2010

SENIMAN SUNDA KANG IBING

Kang Ibing adalah salah seorang seniman asli Sunda yang namanya melegenda hingga saat ini. Seniman serba bisa yang bernama asli Raden Aang Kusumayatna Kusumadinata ini lahir di Sumedang pada tanggal 20 Juni 1946 dari pasangan Raden Suyatna Kusumahdinata dan Raden Kusdiyah. Ia adalah suami dari Ny. Nieke dan ayah tiga orang anak yang bernama Kusmadika, Kusmandana dan Diane.

Kariernya di dunia hiburan berawal sebagai pembawa acara “Obrolan Rineh” di Radio Mara Bandung. Gaya bicaranya yang berintonasi khas Sunda membuat acara yang sarat dengan kritik sosial ini dapat menjadi lebih menarik dan terkesan kocak sekaligus santai. Nama Kang Ibing yang saat menjadi mahasiswa jurusan Sastra Rusia pada Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran pernah menjabat sebagai Ketua Kesenian Daya Mahasiswa Sunda (DAMAS) dan Penasihat Departemen Kesenian Unpad ini pun semakin dikenal luas khususnya oleh para pecinta Radio Mara.

Pada tahun 1970 bersama-sama dengan Aom Kusman, Suryana Fatah, Wawa Sofyan dan Ujang, Kusmayatna (Kang Ibing) membentuk sebuah group lawak bernama De Kabayan. Setiap personel dalam De Kabayan menampilkan ciri khas tersendiri yang mewakili etnis tertentu. Suryana Fatah misalnya, biasanya tampil dalam sosok seorang Tionghoa bernama Koh Holiang dan Wawa Sofyan berperan sebagai seorang Jawa bernama Mas Sastro. Sementara Kusmayatna sendiri menggambarkan sosok seorang Sunda bernama Kang Maman alias Ibing, lengkap dengan peci dan kain sarung yang selalu tersampir di pundaknya. Group lawak ini ternyata segera mendapat tempat bukan hanya dalam hati masyarakat Jawa Barat saja, melainkan juga masyarakat Indonesia pada umumnya.

Setelah sukses menggeluti dunia lawak, pada tahun 1975 Kang Ibing mulai merambah ke dunia layar lebar dengan bermain dalam film berjudul Si Kabayan arahan sutradara Tutty Suprapto. Konon, dipilihkan Kang Ibing untuk memerankan karakter Si Kabayan yang merupakan tokoh legendaris dalam cerita rakyat Pasundan karena Tutty Suprapto merasa tertarik dengan gaya bicara Kang Ibing saat masih menjadi pembawa acara di Radio Mara.

Tahun-tahun berikutnya Kang Ibing mulai ikut terlibat dalam berberapa film layar lebar lainnya, seperti: Ateng The Godfather (1976), Bang Kojak (1977), Si Kabayan dan Gadis Kota (1989), Boss Carmad (1990), Komar Si Glen Kemon Mudik (1990), Warisan Terlarang (1990), dan Di Sana Senang Di Sini Senang (1990).

Memasuki era 90 dan 2000-an, seiring dengan bertambahnya usia dan terpencarnya anggota De Kabayan karena kesibukan masing-masing, Kang Ibing secara perlahan mulai meninggalkan dunia hiburan dan beralih ke dunia religi. Ia menjadi seorang dai atau penceramah agama.

Saat menjadi pendakwah, pria yang pernah menjabat sebagai direktur salah satu bioskop di Kota Bandung itu kerap memberikan ceramah ke berbagai tempat, dari mulai daerah pedesaan dan perkotaan di wilayah Indonesia hingga ke mancanegara, seperti Timor Timur dan Australia. Tema ceramahnya umumnya menyangkut masalah keseharian yang dibalut dengan gaya humor yang cerdas dan segar, sehingga mudah dicerna oleh para pendengarnya.

Sebagai catatan, di sela-sela kesibukannya sebagai seorang pendakwah Kang Ibing masih sempat menggeluti hobi lamanya, yaitu memelihara domba aduan. Untuk hobinya yang satu ini Kang Ibing tidak segan-segan mengambil rumput sendiri di pematang sawah yang berada di sekitar komplek perumahannya di Pandan Wangi Ciwastra Bandung.

Setelah sukses menjadi seorang pelawak, bintang film dan juga pendakwah, pada tanggal 19 Agustus 2010 pria humoris ini dipanggil oleh Sang Penciptanya. Kang Ibing meninggal karena mengalami perdarahan akibat terjatuh di dalam kamar mandi rumahnya. Dia sempat dibawa ke Rumah Sakit Al Islam Bandung, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 20.45 WIB. Rencananya Kang Ibing akan dimakamkan di TPU Gunung Puyuh, Sumedang, dekat dengan makam pahlawan Indonesia asal Aceh Cut Nyak Dhien, pada hari Jumat 20 Agustus 2010. Kapergian Kang Ibing tidak hanya meninggalkan duka bagi kaum kerabatnya, melainkan juga bagi sebagian besar bangsa Indonesia. Selamat jalan Kang Ibing.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar